Jangkauan Jakarta Utara – Sebanyak enam siswa Sekolah Dasar (SD) di kawasan Pulogebang, Jakarta Timur, mengalami muntah-muntah setelah menyantap menu makanan bergizi (MBG) yang disediakan di sekolah mereka. Kasus ini menimbulkan keprihatinan mendalam, mengingat program MBG bertujuan meningkatkan gizi anak, bukan sebaliknya menimbulkan masalah kesehatan.
Kronologi Kejadian
Peristiwa ini terjadi pada Jumat (13/9) siang, usai jam istirahat kedua. Para siswa yang telah menyantap menu MBG berupa nasi, lauk ayam, sayur, dan kudapan dilaporkan mengeluh pusing, mual, dan akhirnya muntah. Guru yang berjaga segera melaporkan kejadian itu ke pihak sekolah, kemudian membawa para siswa ke UKS.
“Awalnya satu anak yang muntah, lalu disusul beberapa temannya. Total ada enam siswa yang mengeluhkan hal yang sama,” ujar Rina, salah satu guru yang mendampingi.
Tindakan Cepat Sekolah
Pihak sekolah segera menghubungi puskesmas terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis. Tim kesehatan datang memberikan penanganan awal, termasuk pemeriksaan tanda vital, pemberian obat anti mual, dan cairan rehidrasi.
“Alhamdulillah kondisi anak-anak sudah stabil, tidak ada yang sampai dirawat inap. Tapi kasus ini tetap perlu ditangani serius karena menyangkut keamanan makanan di sekolah,” kata Kepala Sekolah.

Baca juga: Rangkaian Acara HUT ke-80 TNI: Dari TNI Fair hingga Parade Puncak di Monas
Sampel Makanan Dibawa ke Laboratorium
Pemerintah Kota Jakarta Timur melalui Dinas Kesehatan langsung turun tangan. Sampel makanan MBG yang dikonsumsi siswa dikumpulkan untuk diuji di laboratorium. Uji tersebut bertujuan memastikan apakah ada kontaminasi bakteri, jamur, atau zat berbahaya dalam makanan.
“Ini prosedur standar. Kami ingin tahu apakah benar makanan yang disajikan menjadi penyebab, atau ada faktor lain,” ungkap dr. Lusi, petugas Dinkes Jaktim.
Respon Orang Tua Siswa
Kejadian ini menimbulkan keresahan orang tua murid. Beberapa orang tua bahkan menjemput anaknya lebih awal karena khawatir kondisi serupa menimpa siswa lain.
“Program MBG niatnya bagus, tapi kalau kualitas makanannya tidak dijaga, kasihan anak-anak yang jadi korban. Kami minta pemerintah serius mengawasi katering penyedia,” tegas Hendri, salah satu wali murid.
Evaluasi Program MBG
Program MBG selama ini digadang-gadang pemerintah sebagai upaya mengurangi angka stunting dan meningkatkan asupan gizi anak. Namun, kejadian di Pulogebang menjadi alarm penting agar pengawasan mutu makanan benar-benar diperketat.
Pakar gizi dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Pramudita, menilai kejadian ini harus dijadikan momentum evaluasi menyeluruh. “Katering penyedia harus memiliki standar higienitas tinggi, mulai dari bahan baku, proses memasak, hingga distribusi. Anak-anak adalah kelompok rentan, sehingga keamanan pangan tak boleh diabaikan,” ujarnya.
Pemerintah Janji Transparan
Dinas Pendidikan DKI Jakarta berjanji akan menyampaikan hasil uji laboratorium kepada publik begitu selesai. Mereka juga akan melakukan inspeksi mendadak ke pihak penyedia katering yang terlibat.
“Jika terbukti ada kelalaian, kontrak dengan penyedia akan ditinjau ulang. Keselamatan siswa menjadi prioritas utama,” tegas pejabat Disdik DKI.
Penantian Hasil Lab
Untuk sementara, pihak sekolah menghentikan sementara distribusi makanan MBG hingga hasil laboratorium keluar. Orang tua diimbau untuk tetap tenang dan memastikan anak-anak mendapatkan makanan dari rumah dengan kebersihan yang terjamin.
Publik kini menunggu hasil resmi uji laboratorium yang akan menentukan langkah lebih lanjut. Apakah ini murni kasus keracunan makanan akibat kelalaian penyedia, atau ada faktor lain yang memicu gangguan kesehatan pada siswa.







